Showing posts with label Gallery. Show all posts
Showing posts with label Gallery. Show all posts

Tuesday, July 5, 2011

Colours of Indonesia: “The Enchanting Culture of Minahasa”, The Touch of Gujarat and The Power of Patola Minahasa

 
Kreativitas Thomas Sigar dalam mengangkat kain tradisional Indonesia memang tak pernah surut. Throughout his career, he has presented his works such as tenun Aceh Gayo, tenun Songket (weaving typical of Southeast Sulawesi), tenun Tapanuli (ulos-Batak), tenun Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur, even weaving artisans of Cirebon and the various batik from Java.

Di antara beragam kain tradisional tersebut, kain Minahasa termasuk yang menarik perhatiannya. Sekitar bulan Juli 2007, diadakan Upacara Adat Watu Pinawetangan. Di situ Thomas mencermati guratan simbol-simbol penuh makna di permukaan Watu Pinawetangan, yang dibuat oleh nenek moyang Minahasa sekitar 3000 tahun silam.  

Da strokes was impressed very unique and interesting!

"Guratan itu tidak utuh lagi, sudah banyak yang dirusak oleh tangan-tangan jahil. Beruntung gambar guratan seutuhnya ternyata masih ada di catatan sejarah yang ditulis Hukum Tua Kanonang. Terinspirasi dengan guratan simbol-simbol di batu yang begitu unik dan penuh makna, muncul niat untuk menjadikannya sebagai motif kain,” ujar Thomas, menjelang show bertema “The Enchanting Culture of Minahasa”, di Ballroom XXI Djakarta Theater, Kamis (30/6/2011) lalu.


Show yang digelarnya kali ini ini mengikuti peragaan akbar pertama tentang kain Minahasa pada 2009. Tahun 2010, Thomas juga sempet menggelar show bertema "Colours of Indonesia" yang digelar oleh Yayasan Sulam Indonesia di Departemen Kebudayaan dan Pariwisata.



Peragaan yang menampilkan 25 potong busana tersebut terbagi dalam dua subtema, yakni The Touch of Gujarat dan The Power of Patola Minahasa...

Tiga belas busana dalam koleksi The Touch of Gujarat menampilkan teknik hand print yang ditampilkan di atas kain bahan sutera Thailand dan sutera chiffon. Untuk menggambarkan pengaruh kain India pada kain tenun Minahasa olahan baru ini, Thomas menggarap kain-kainnya menjadi busana bergaya India, yang dicampur dengan pengaruh animisme dengan dominasi warna coklat kayu, hijau pupus dedaunan, dan abu-abu batu-batuan. Rancangan busana prianya terinspirasi dari Kurta (kemeja tunik panjang India) dan jas tutup bergaya Nehru. Rancangan busana wanita diberi sentuhan jelabah dengan teknik draperi, serta unsur bebatuan yang menambah keindahan busana.


Motif yang digunakan adalah patola pinatikan dan patola minahasa. Patola Pinatikan adalah motif dari kain Pinatikan yang diberikan sentuhan modern menjadi motif sirip ular (patola). Sedangkan motif patola minahasa adalah motif-motif sakral dari kain patola yang dipadukan dengan motif tembega (perhiasan kuno dari Minahasa). Aksesori berukuran besar yang dikembangkan dari motif kuno sampai lambang-lambang tradisional hadir dalam bentuk anting panjang, tusuk konde besar, dan kalung bernuansa animisme.

Sedangkan 12 busana dalam The Power of Patola Minahasa menggunakan kain-kain tenun, di antaranya kaiwu patola, kaiwu pinawetengan, dan kaiwu pinatikan, dan kaiwu tembega.

Kaiwu patola adalah tenun yang terinspirasi dari motif kain patola (Gujarat/India) yang disakralkan di Minahasa era pra-Kristiani. Di Minahasa, ular sawah (phyton) dinamakan ular patola karena memiliki sirip kulit yang menyerupai kain patola India. Sedangkan kaiwu pinawetangan adalah motif dari watu pinawetengan yang muncul kembali pada desain motif yang digabungkan dengan motif yang terdapat di kain tenun Minahasa kuno. Motif “meander” (bentuk sungai yang menyerupai bentuk ular) tampil dalam komposisi motif pengembangan ini.

Lalu kain kaiwu pinatikan adalah kain tenun yang kembali menampilkan motif ular (patola) namun dengan motif “sualanga” (perhiasan asli Minahasa yang berupa bulan sabit). Terakhir, kaiwu tembega adalah motif tembega, yaitu perhiasan asli Minahasa yang diartikan sebagai simbol alat reproduksi wanita yang disakralkan. Motif ini tampil untuk pertama kali dalam bentuk kain dengan kepala (tumpal) yang berpasangan dengan selendang panjang.

Monday, July 4, 2011

EVEN Jessica Alba, Drew Barrymore, Rachel Bilson and Lenka LOVE BATIK! WHAT ABOUT YOU?

 

JESSICA ALBATIK
in batik motif parang, origin: SOLO, CENTRAL JAVA


what a ah-dorable combination!
























RACHEL BILSON
with her batik :)




 
DREW BATIKMORE
look her sling bag!



















and Lenka said:
“You know what, I’ll be wearing it like a lady,”


INDONESIA: ARE YOU FOOD-MONSTER?

ARE YOU FOOD-MONSTER?
Bangkok punya Khao San Road, and Surabaya punya KYA KYA! It's a China Town that turns into a spacious outdoor eating place at night which located in Kembang Jepun Street, the old Surabaya. Kembang Jepun is Surabaya's China Town and in the nothern part of Surabaya.
 
During the day, Kembang Jepun is one of the busiest trading centres in the city. In the past, this area was very desolate at night because it was a very quiet area, nobody would dare to walk in this area at night.

Since 2003, Kembang Jepun street was turned to outdoor eating place at night with all Chinese adornment, namely Chinese paper lanterns, Chinese lion statues that guard the entrance gate for good luck etc. In this place you can have local, chinese and western dishes. My two favourite food stalls here are Ahong Chinese food and Mie Kembang Jepun (Kembang Jepun noodle). Their food is good with reasonable prices. Sometimes, there are live music performances, like dangdut (it is Indonesia's music specialty), jazz, Chinese, Javanese or Arabian music etc.

I like this place and it was a cozy place. The only problem is when the rainy season comes ... because it is an open space eating place, then as you can imagine, nobody want to have dinner under the rain right? :P

INDONESIA: Taka Bone Rate Marine National Park

Taka Bone Rate Marine National Park

such a virgin setting that will lead you to a stretch of tropical paradise! Located in the Flores Sea, south of Sulawesi island of Indonesia. FYI, Takabonerate National Park has the third largest coral atoll in the world after the Kwajifein in Marshall Islands and the Islands Suvadiva Moldiva...

 

Sunday, June 26, 2011

Going to mall?

Bad bitch is ready to go, simply casual...


The mask of Malang, East Java



(✿◠‿◠) The mask of Malang, East Java
The mask of Malang (topeng Malang) has special characteristics, such of randu wood (capok tree), rather dark in colour, with a carving on the forehead which is specially bulging, fashioned with a square chin and high cheek- bones. Some mask needs some ritual to make the carving mask has a magic power.

Decoratively, Malang masks are unique. They are different from any other mask art found in Java. There are five typical colurs used to deco rate the masks. The red colour symbolizes courage, the black colour symbolizes determined ambitions, the yellow colour symbolizes wisdom, the white colour indicates purified character and the green colour indicates peace.

The carving mask usually made to be used in an opera or "wayang topeng".

Saturday, June 25, 2011

Rate My Juicy



Photobucket

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates